Minggu, 11 Juni 2017

Apa Arti Penting Mempelajari Kehidupan Manusia pada Zaman Pra Aksara

 Masa pra aksara merupakan satu fase penting dalam sejarah kehidupan manusia, dimana saat itu manusia sama sekali belum mengenal tulisan. Yang diperkirakan hidup pada masa pra aksara adalah sekumpulan manusia purba. Berlangsungnya zaman pra aksara, terjadi sejak manusia benar-benar belum mengenal tulisan sampai hingga manusia mulai mengenal dan bahkan menggunakan tulisan.
Masa pra aksara adalah suatu masa dimana manusia, dalam hal ini manusia purba sebagai masyarakat pertama yang menetap di suatu wilayah di Indonesia belum mengenal tulisan sama sekali, namun mereka tetap bisa bertahan hidup dengan melakukan sejumlah aktivitas seperti bercocok tanam, berburu, serta membuat peralatan yang bisa digunakan untuk kehidupan sehari-harinya. Sebagaimana diketahui bahwa ada 3 masa penting dalam kehidupan manusia di jaman pra aksara. Setiap masa itu tentunya menghasilkan kebudayaan yang menjadi suatu warisan budaya untuk generasi selanjutnya.


3 Masa Penting di Zaman Pra Aksara

1) Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Masa berburu dan mengumpulkan makanan adalah suatu masa dimana manusia melakukan kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan dengan bergantung pada kondisi alam tempat mereka tinggal. Pada masa ini, manusia mencoba membuat alat atau benda tajam dari batu atau tulang untuk digunakan saat akan berburu atau menggunakan 2 keping batu yang digosokkan untuk menghasilkan percikan api yang bisa digunakan untuk memasak. Adapun peralatan hasil budaya dari masa ini, antara lain:



Arti Penting Mempelajari Sejarah Kehidupan Masa Pra Aksara


ASTALOG.COM – Masa pra aksara merupakan satu fase penting dalam sejarah kehidupan manusia, dimana saat itu manusia sama sekali belum mengenal tulisan. Yang diperkirakan hidup pada masa pra aksara adalah sekumpulan manusia purba. Berlangsungnya zaman pra aksara, terjadi sejak manusia benar-benar belum mengenal tulisan sampai hingga manusia mulai mengenal dan bahkan menggunakan tulisan.
Masa pra aksara adalah suatu masa dimana manusia, dalam hal ini manusia purba sebagai masyarakat pertama yang menetap di suatu wilayah di Indonesia belum mengenal tulisan sama sekali, namun mereka tetap bisa bertahan hidup dengan melakukan sejumlah aktivitas seperti bercocok tanam, berburu, serta membuat peralatan yang bisa digunakan untuk kehidupan sehari-harinya. Sebagaimana diketahui bahwa ada 3 masa penting dalam kehidupan manusia di jaman pra aksara. Setiap masa itu tentunya menghasilkan kebudayaan yang menjadi suatu warisan budaya untuk generasi selanjutnya.

3 Masa Penting di Zaman Pra Aksara

1) Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Masa berburu dan mengumpulkan makanan adalah suatu masa dimana manusia melakukan kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan dengan bergantung pada kondisi alam tempat mereka tinggal. Pada masa ini, manusia mencoba membuat alat atau benda tajam dari batu atau tulang untuk digunakan saat akan berburu atau menggunakan 2 keping batu yang digosokkan untuk menghasilkan percikan api yang bisa digunakan untuk memasak. Adapun peralatan hasil budaya dari masa ini, antara lain:
  • Kapak perimbas
  • Kapak penetak
  • Pahat genggam
  • Alat serpih
  • Alat-alat dari tulang

2) Masa Bercocok Tanam

Masa bercocok tanam merupakan suatu masa dimana manusia mulai dapat melanjutkan hidupnya dengan memenuhi kebutuhan dari memanfaatkan hutan belukar yang dijadikan sebagai ladang. Di masa ini, manusia juga telah mulai hidup dengan cara menetap di satu tempat. Adapun peralatan hasil budaya dari masa ini, antara lain:
  • Beliung persegi atau kapak persegi
  • Kapak lonjong
  • Mata panah
  • Gerabah
  • Perhiasan
  • Bangunan megalitik

3) Masa Perundagian

Masa perundagian adalah suatu masa dimana sekelompok orang dapat dikatakan telah memiliki kepandaian atau keterampilan sendiri. Di masa ini, manusia telah hidup menetap di desa-desa, pegunungan, bahkan di tepi pantai.  Adapun peralatan hasil budaya dari masa ini, antara lain:
  • Nekara
  • Moko
  • Kapak perunggu
  • Bejana perunggu
  • Perhiasan perunggu
  • Arca/patung perunggu

Arti Penting Mempelajari Sejarah Kehidupan Masa Pra Aksara

Mungkin sebagian dari kita ada yang merasa tidak perlu mempelajari atau setidaknya tidak perlu mencari tahu tentang kehidupan di masa pra aksara karena dianggap tidak begitu penting. Padahal sejarah masa lalu termasuk kehidupan di masa pra aksara mempunyai hubungan yang signifikan dengan kehidupan yang dijalani masyarakat sekarang.
Misalnya saja mengenai pola hunian, pola pertanian subsistensi, teknologi tradisional, serta sejumlah mitos tentang hubungan harmoni antara manusia dan alam adalah sebagian dari peninggalan kehidupan di masa pra aksara.
Dari sejumlah uraian di atas maka dapat dituliskan secara lebih mendetail tentang alasan pentingnya mempelajari kehidupan dari masa pra aksara, antara lain :
    1.) kita dapat mengetahui perkembangan hidup manusia
    2.) kita dapat mengetahui cara bercocok tanam , berburu dan mengatasi alam liar
    3.) kita dapat mengatahui bagaimana kerasnya hidup di alam liar
    4.) kita dapat mengetahui revolusi manusia dari masa-kemasa
    5.) kita dapat membuat senjata-senjata dari alam (batu) dalam keadaan darurat saat kemping/perkemahan.
    6.) kita dapat mengerti arti hidup saling bergantung, berkelompok, dan asaling tolong-menolong.

      Soal Pilihan Ganda PJOK Tentang Permainan Bola Bsar ( Beserta Jawabannya )



      1.Orang yang menciptakan bola basket adalah
      a.       James A Naismith
      b.      Jon Gulix
      c.       William G Morgan
      d.      Lutte
      2. Bentuk lapangan permainan bola basket adalah
                  a. Bujur sangkar
                  b. kubus
                   di sec. Persegi panjang
                  d. Trapesium
      3. Panjang dan Lebar lapangan bola basket berukuran
                  a. 28 x 9 meter
                  b. 18 x 10 meter
                  c. 18 x 112 meter
                  d. 28 x 14 meter
      4. Operan bola basket yang dilakukan dari depan dada lurus disebut
                  a. Over head pass
                  b. Ches Pass
                  c. Bounce pass
                  d. Under hand pass
      5. Ukuran bola basket yang benar adalah
                  a. 400-500 gram
                  b. 600-650 gram
                  c. 700-750 gram
                  d. 800-850 gram
      6. Memasukkan bola ke dalam ring basket nilai  3 dengan cara
                  a. memasukan bola dari bawah ring]
                  b. memasukkan bola dari daerah hukuman
                  c. memasukkan bola dari luar garis setengah lingkaran
                  d. memasukkan bola dari luar garis belakang
      7. Di dalam permainan bola basket, jika salah satu team memasukkan bola maka permainan di mulai dari
                  a. Di tengah-tengah titik lapangan
                  b. Lemparan bola dari belakang lapangan
                  c. Lemparan dari sudut lapangan
                  d. Lemparan dari samping lapangan
      8. Induk organisasi bola basket dunia dikenal dengan singkatan
                  a. FITA
                  B. CIBA
                  C.IAAF
                  D. FIBA
      9. Pencipta bola volley adalah
                  a. John lock
                  b. James A Naismith
                  c. Gullex
                  d. William G morgan
      10. Permainan bola Volley tiap regu jumlah pemainnya adalah
                  a. 4 orang
                  b. 5 orang
                  c. 6 orang
                  d. 7 orang
      11. Penilaian dalam permainan bola volley menggunakan rolly point jumlah setiap game adalah
                  a. 25
                  b. 22
                  c. 21
                  d. 20
      12. Panjang dan lebar lapangan bola volley yang benar adalah
                  a. 18 x 10 M
                  b. 18 x 9 M
                  c. 28 x 9 M
                  d. 28 x 110 M
      13. Tinggi net untuk permainan bola volley putra adalah
                  A. 2,24 M
                  B. 2,25 M
                  C. 2,45 M
                  D. 2,43 M
      14. Istilah servis di dalam permainan bola volley adalah
                  a. Syarat permainan bola volley
                  b. Di mulai permainan
                  c. pukulan smesh
                  d. pukulan sajian pertama
      15. Permainan bola volley berasal dari negara
                  a. Inggris
                  b. AS
                  c. Japan
                  d. Italy

      Jawaban :
      1. a
      2.c
      3. d 
      4. b
      5. b
      6. c
      7. b
      8. d
      9. d
      10. c
      11. a
      12. b
      13. d
      14. b
      15. b

      Sabtu, 10 Juni 2017

      Upaya Menjaga Eksistensi Identitas Nasional di Eea Globalisasi

      MEMPERTAHANKAN IDENTITAS NASIONAL DI ERA GLOBALISASI

      BAB I

      1.1. PENDAHULUAN

      Identitas suatu bangsa merupakan faktor yang sangat menentukan jati diri sebuah bangsa ataupun negara yang pada prinsipnya identitas itulah yang menandakan eksistensi bangsa di lingkungan internasional. Bertolak dari konsep diatas, adalah sangat penting bagi setiap bangsa untuk mampu mempertahankan identitas nasionalnya demi eksistensi bangsa tersebut dan harga diri, jati diri, dan kehormatan bangsa tersebut.
      Adapun dalam era globalisasi sekarang ini, menuntut penyesuaian bagi setiap negara agar dapat mempertahankan eksistensinya sebagai negara berdaulat. Demikian halnya dengan identitas nasional suatu bangsa yang harus dipertahankan agar tidak mengalami pergeseran nilai identitas nasional tersebut. Hal inilah yang akan menjadi bahan kajian dalam makalah yang kami (kelompok II) sajikan dengan mengungkap cara–cara atau trick suatu bangsa dalam mempertahankan identitas nasionalnya. Dalam ulasannya, disajikan juga kondisi globalisasi sekarang ini yang mengalami kemajuan pesat. Disamping kemajuan yang pesat itu, tidak dipungkiri lagi ada begitu banyak tantangan yang dihadapi negara, dengan adanya pergeseran nilai–nilai budaya asli bangsa karena arus globalisasi yang kian deras sehingga kadang tidak terkendali.
      Menyikapi hal ini, perlu adanya peran pemerintah dan masyarakat yang bekerjasama dalam merespon masalah–masalah yang timbul dalam arus globalisasi sekarang ini, dan demi mempertahankan eksistensi identitas nasional. Hal ini akan dibahas dalam makalah kami ini, dengan menyertakan berbagai sumber terkait demi keakuratan materi didalamnya.

      1.2. RUMUSAN MASALAH
      1. Bagaimanakah keberadaan identitas nasional dalam arus globalisasi ?
      2. Strategi apakah yang diterapkan untuk mempertahankan identitas nasional dalam arus globalisasi ?
      3. Mengapa identitas nasional perlu dipertahankan di era globalisasi ?

      1.3. MANFAAT PENULISAN
      1. Secara teoritis kegunaan makalah ini dapat mengembangkan wawasan dan pengetahuan tentang strategi mempertahankan identitas nasional dalam arus globalisasi.
      2. Secara praktis bermanfaat bagi pengembangan wawasan ilmu pengetahuan mengenai strategi mempertahankan nasional dalam arus globalisasi, mengembangkan konsep tentang strategi mempertahankan nasional dalam arus globalisasi, memberikan manfaat dalam rangka pengembangan konsep, proposisi maupun teori baru tentang identitas nasional dan arus globalisasi, memberikan manfaat kepada masyarakat umum yang ingin mengetahui cara mempertahankan nasional dalam arus globalisasi.

      1.4. METODOLOGI
      Metode penulisan makalah ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Dalam penyusunannya, makalah ini disajikan dengan tiga bab, dimana pada Bab I, terdiri dari Pendahuluan, Rumusan Masalah, Manfaat Penulisan, Metodologi, dan Tinjauan Pustaka. Bab II, merupakan bagian pembahasan, dan Bab III merupakan bagian penutup yang terdiri atas kesimpulan dan saran.

      1.5. TINJAUAN PUSTAKA

      A. Pengertian Strategi
      Kata strategi berasal dari turunan bahasa Yunani “strategos” yang dapat diterjemahkan sebagai ‘komandan militer’ pada zaman demokrasi atena. Menurut Henry Mintz Berg, James Brian quinn, dan Jhon voyer( 1995), The Strategi Process Preatice-HLL,inc mendifinisikan strategi sebagai 5P yaitu: strategi sebagai perspektif, strategi sebagai posisi, strategi sebagai perencanaan, strategi sebagai pola kegiatan, dan strategi sebagai penipuan (ploy) yaitu muslihat manusia. Sebagai perspektif; dimana strategi dalam membentuk misi, menggambarkan perspektif kepada semua aktivitas. Sebagai posisi; dimana dicari piliha untuk bersaing sebagai perencanaan; dalam hal strategi menentukan tujuan performansi perusahaan. Sebagai pola kegiatan; dimana dalam strategi dibentuk suatu pola yaitu umpan balik dan penyesuaian. Menurut Henry Mints juga strategi merupakan sebuah pola dalam aliran keputusan atau tindakan. Dari berbagai pendapat yang dipaparkan para ahli, dapat di tarik kesimpulan bahwa strategi adalah suatu perencanaan dalam bentuk tindakan untuk mencapai tujuan.

      B. Identitas Nasional
      Identitas secara terminologi adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain . Berdasarkan pengertian tersebut, identitas nasional dapat berarti setiap bangsa memiliki ciri khas, keunikan dan sifat-sifat yang berbeda dengan bangsa lain. Dengan demikian, identitas nasional merupakan jati diri bangsa atau kepribadian suatu bangsa. Pada umumnya pengertian atau istilah kepribadian sebagai suatu identitas adalah keseluruhan atau totalitas dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis yang mendasaari tingkah laku individu. Tingkahlaku tersebut terdiri atas kebiasaan, sikap, sifat-sifat serta karakter yang beda dengan orang lain. Oleh karena itu, kepribadian tercermin pada keseluruhan tingkahlaku seseorang dalam hubungan dengan manusia lain (Ismaun, 1981:6)
      Identitas nasional merupakan kepribadian bangsa. Ketika dapat memahami kepribadian, yang menjadi pertanyaan apakah pengertian bangsa . Pada hakikatnya bangsa adalah sekelompok besar manusia yang mempunyai persamaan nasib dalam proses sejarahnya, sehingga mempunyai persamaan watak atau karakter yang kuat untuk bersatu dan hidup bersama serta mendiami suatu wilayah sebagai suatu kesatuan nasional.
      Dari pengertian kepribadian dan bangsa, maka identitas nasional itu benar-benar melekat pada setiap individu yang mendiami suatu bangsa.

      C. Globalisasi
      Globalisasi adalah suatu kekuatan yang tidak dapat dibendung. Didalam Konferensi Berlin dari kelompok yang menyebut dirinya sosial demokrat, Shimon Peres menyatakan kekuatan globalisasi sebagai pengalaman seseorang yang bangun pagi dan melihat segala sesuatu berubah. Banyak hal yang kita anggap biasa, banyak paradigma yang kita anggap suatu kebenaran tiba-tiba menghilang tanpa bekas. Menurut Budi Winarno, globalisasi menjadi sebuah fenomena multifaset (banyak wajah) yang menimbulkan beraneka ragam pandangan dan interpretasi, terutama jika dikaitkan dengan kesejahteraan umat manusia di dunia.

      BAB II
      PEMBAHASAN
      STRATEGI MEMPERTAHANKAN IDENTITAS NASIONAL

      2.1 Keberadaan Identitas Nasional dalam Era Globalisasi

      Globalisasi saat ini bergerak dengan sangat cepatnya, kemajuan teknologi informasi serta komunikasi menyebabkan hubungan antara manusia menjadi sangat cepat dan tanpa batas. Setiap orang bisa berbicara dan bertatap muka dengan berbagai masyarakat dari berbagai belahan dunia lainnya. Dengan adanya kemajuan dibidang teknologi dan informasi mempengaruhi keberadaan bidang-bidang lain. Misalnya bisnis, transportasi, pembangunan, pendidikan, budaya. Pengaruh dari adanya kemajuan ini memudahkan proses transaksi bisnis dan transportasi maka secara otomatis akan memudahkan masuknya budaya-budaya asing yang akan mempengaruhi identitas nasional. Dalam identitas nasional, budaya adalah salah satu faktor penentu jati diri bangsa. Pada saat ini budaya lokal (daerah) perlahan-lahan mulai berubah dan bahkan ada bagian-bagian tertentu yang hilang, ini terlihat secara perlahan-lahan masyarakat cenderung berpikir dan menerapkan budaya nasional dalam tata kehidupan secara format bisnis yang dibangunnya. Seperti beberapa menu makanan dan tata budaya lokal mulai terasa asing diterapkan, seperti model keputusan ke daerah mulai ditinggal dan dipakai format keputusan budaya nasional, padahal kearifan budaya daerah juga mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan. Pergeseran ini dapat kita lihat terutama pada masyarakat perkotaan yang telah mengalami akulturasi dari berbagai budaya, karena masyarakat kota bersifat heterogen. Contohnya terlihat pada acara-acara pesta perkawinan tertentu yang diadakan di perkotaan dimana mempelai laki-laki dan perempuan kadangkala ditemui tidak lagi memakai pakaian adat mereka, namun telah memakai pakaian yang bergaya barat seperti jas dan gaun. Contoh yang lainnya dapat dilihat dalam penyelesaian konflik dan proses pengambilan keputusan di masyarakat, yaitu dalam proses penyelesaian konflik tidak lagi mengedepankan konsep penyelesaian secara adat, padahal penyelesaian secara adat mampu memberi pengaruh penguatan rasa persaudaraan. Dari melihat contoh diatas globalisasi yang masuk ke Indonesia mampu mempengaruhi budaya yang sudah ada.

      2.2 Strategi Mempertahankan Identitas Nasional

      Dalam arus globalisasi ada begitu banyak tantangan yang di hadapi oleh berbagai negara, maka ada begitu banyak pula tuntutan untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi tersebut. Termasuk juga tantangan dalam mempertahankan jati diri bangsa. Untuk menghadapi hal ini perlu adanya strategi untuk mempertahankan identitas nasional yang merupakan jati diri bangsa, diantaranya dengan mengembangkan nasionalisme, pendidikan, budaya dan Bela Negara.

      a. Mengembangkan Nasionalisme

      Nasionalisme telah menjadi pemicu kebangkitan kembali dari budaya yang telah memberi identitas sebagai anggota dari suatu masyarakat bangsa-bangsa . Secara umum, nasionalisme dipahami sebagai kecintaan terhadap tanah air, termasuk segala aspek yang terdapat didalamnya. Dari pengertian tersebut ada beberapa sikap yang bisa mencerminkan sikap nasionalisme, yaitu :
      1. Menggunakan barang-barang hasil bangsa sendiri, karena bisa menambah rasa cinta dan bangga akan hal yang di buat oleh tangan-tangan kreatif penduduknya.
      2. Menghargai perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan bangsa ini, bisa dilakukan dengan beberapa perbuatan misalkan membaca, menonton, mengunjungi hal-hal yang berkaitan tentang sejarah bangsa ini lahir. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan jiwa nasionalisme yang sudah ada dari masing-masing individu.
      3. Berprestasi dalam semua bidang misalkan dari bidang olah raga, akademik, teknologi dan lain-lain. Hal ini bertujuan untuk menambahkan rasa bangga dan sikap rela berkorban demi bangsa.
      Ada tiga aspek penting yang tidak dapat dilepaskan dalam konteks nasionalisme yaitu :
      1. Politik. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghilangkan dominasi politik bangsa asing dan menggantikannya dengan sistem pemerintahan yang berkedaulatan rakyat.
      2. Sosial ekonomi. Nasionalisme Indonesia muncul untuk menghentyikan eksploitasi ekonomi asing dan membangun masyarakat baru yang bebas dari kemeralatan dan kesengsaraan.
      3. Budaya. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghidupkan kembali kepribadian bangsa yang harus diselaraskan dengan perubahan zaman.
      Dengan demikian, mengembangkan sikap nasionalisme (cinta tanah air), akan dengan sendirinya telah mempertahankan dan melestarikan keaslian dari bangsanya, termasuk budaya atau kebiasaan, karakter, sifat-sifat, produk dalam negeri dan adat istiadat masing-masing suku. Dengan demikian, hal ini merupakan sikap yang menjadi salah satu faktor penentu dalam mempertahankan identitas nasional.

      b. Pendidikan

      Pembinaan jati diri bangsa indonesia dapat dilaksanakan melalui jalur formal maupun informal . Melalui jalur formal jati diri bangsa Indonesia dapat dikembangkan melalui pendidikan. Pendidikan nasional mempunyai peran yang sangat besar didalam pembentukan jati diri bangsa Indonesia. Salah satu kenyataan bangsa Indonesia ialah memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dengan jumlah suku bangsa yang ratusan dengan budayanya masing-masing merupakan kekayaan yang sangat berharga didalam pembentukan bangsa Indonesia yang multikultural. Didalam upaya pembentukan dan mempertahankan jati diri bangsa, peran pendidikan sangat efektif untuk menimbulkan rasa memiliki dan keinginan untuk mengembangkan kekayaan nasional dari masing-masing budaya lokal .
      Hal ini sejalan dengan penuturan Syamhalim dalam tulisannya yang ditampilkan di blog-nya bahwa salah satu upaya untuk mengembalikan dan mengembangkan identitas nasional adalah melalui bidang pendidikan. Socrates menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses pengembangan manusia kearah kearifan (wisdom), pengetahuan (knowledge), dan etika (conduct), (Zaim. 2007). Ada dua fenomena mengapa pendidikan adalah yang pertama dan utama .
      Pertama, ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yang pertama Sputnic pada 4 Oktober 1957, Amerika Serikat “meradang”. Amerika adalah negara besar dengan kemampuan teknologi yang paling maju merasa didahului oleh Uni Sovyet. Presiden AS ketika itu memerintahkan untuk membentuk special unit. Tim ini tidak berkeinginan untuk menandingi Uni Sovyet, tetapi tugasnya adalah meninjau kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang Pendidikan Dasar sampai tingkat Perguruan Tinggi. Dengan bekerja keras dalam waktu yang singkat tim tersebut berhasil mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulum pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus direvisi.
      Amerika pun mulai melakukan pembaharuan pendidikan dalam segala segi dan dimensinya. Mulai dari kurikulum, mata pelajaran, tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai pada sistem evaluasi pendidikan. Usaha mereka dengan sangat cepat membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Pada tanggal 14 Juli 1969 mereka berhasil meletakkan manusia pertama di permukaan bulan. Hanya dalam kurun waktu 12 tahun mereka berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet. Waktu yang relatif singkat, kurang dari masa pendidikan seorang anak dari tingkat dasar sampai jenjang perguruan tinggi. (C. Winfield dan Scoot dalam Zaim. 2007).
      Kedua, kejadian yang hampir serupa ketika Jepang telah kalah dalam perang dunia II dengan dijatuhi bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Jepang praktis lumpuh dalam segala sendi kehidupan. Bahkan Kaisar Jepang waktu itu menyatakan bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah dan air. Namun sang Kaisar langsung memanggil pucuk pimpinan dan bertanya: berapa orang guru yang masih hidup?. Sebuah pertanyaan sederhana tapi mengandung makna bahwa pendidikan adalah awal segalanya.
      Dua fenomena diatas merupakan gambaran nyata dari urgensi pendidikan yang telah dipahami dan diaplikasikan dengan baik oleh AS dan Jepang. Langkah yang mereka ambil telah membuktikan kepada dunia bahwa kemajuan pendidikan berarti kemajuan sebuah bangsa. Dan bangsa manapun di dunia ini yang mengabaikan pendidikan maka akan mengalami kehancuran dari bangsanya.
      Di Indonesia, jauh sebelum Bung Karno menggagas konsep kemerdekaan Indonesia, elemen bangsa yang berbasis pendidikan seperti R.A. Kartini, HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo, Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara, sudah memikirkan bangsa ini lewat pendidikan. Tidak lama berselang giliran KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi sosial dan kependidikan dengan nama Muhammadiyah. Lewat satu Dekade berikutnya KH. Hasyim Asy’ari ikut mencerdaskan bangsa dengan NUnya. Semua bermuara pada pendidikan. Hasilnya, semua orang terdidik mulai memikirkan bangsa dan berusaha lepas dari penjajahan .
      Dari uraian di atas nampak adanya keterkaitan antara pendidikan dengan kemajuan suatu bangsa. Warna pendidikan adalah warna suatu bangsa. Identitas nasional yang dikembangkan melalui pendidikan diharapkan akan memberi harapan positif bagi kemajuan bangsa ini untuk mempertahankan karakteristiknya sebagai sebuah bangsa yang beradab, bangsa yang santun, bangsa yang toleran, bangsa yang menghargai perbedaan dan bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
      Pemantapan identitas nasional melalui dunia pendidikan hendaknya tidak dilakukan setengah hati dan parsial. Transformasi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang memacu tumbuhnya identitas dan jatiri bangsa perlu sinergi dari pihak-pihak yang berkompeten di dunia pendidikan terutama guru yang bersentuhan langsung dengan siswa, dan yang perlu diperhatikan adalah bahwa tugas ini tidak hanya menjadi tugas guru mata pelajaran tertentu saja misalnya Pendidikan Kewarganegaraan, tetapi juga semua guru mata pelajaran dengan pendekatan sesuai karakteristik mata pelajaran yang diampuh. Melalui dunia pendidikan dapat ditanamkan identitas nasional kepada generasi muda yang merupakan miniatur masyarakat masa depan.

      c. Pelestarian Budaya

      Seseorang yang di sebut berbudaya adalah seorang yang menguasai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai budaya, khususnya nilai-nilai etis dan moral yang hidup di dalam kebudayaan tersebut . Budaya merupakan salah faktor penentu jati diri bangsa. Pada pengertiannya, budaya adalah hasil karya cipta manusia yang dihasilkan dan telah dipakai sebagai bagian dari tata kehidupan sehari-hari . Suatu budaya yang dipakai dan diterapkan dalam kehidupan dalam waktu yang lama, akan mempengaruhi pembentukan pola kehidupan masyarakat, seperti kebiasaan rajin bekerja. Kebiasaan ini berpengaruh secara jangka panjang, sehingga sudah melekat dan terpatri dalam diri masyarakat. Namun pada kenyataannya budaya indonesia sekarang ini mulai menghilang karena pengaruh budaya asing yang masuk ke indonesia, untuk itulah perlu adanya pembangunan kembali jati diri dan budaya bangsa dan Negara, ada dua hal utama yang harus dilakukan :
      1. Merevitalisasi kedaulatan politik, ekonomi dan budaya agar berada pada jalur yang benar sesuai dengan hakikat bangsa yang merdeka sehingga bangsa kita mampu mandiri dan bermartabat.
      2. Mendorong political will penyelenggaraan Negara, baik eksekutif maupun legislatif untuk membangun dan menjabarkan kembali nilai-nilai dan semangat kebangsaan di setiap hati nurani rakyat.
      Selain pembangunan diatas, pembangunan dalam bangunan-bangunan budaya seperti rumah adat, dan lain sebagainya juga perlu diperhatikan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia. Dengan demikian, jelaslah bahwa dengan melestarikan budaya bangsa, dapat memperkokoh identitas nasional itu sendiri karena dalam setiap pelaksanaan nilai-nilai budaya, masyarakat akan lebih cenderung melekat dan menyatu dengan budaya yang dianutnya, selain itu juga dengan adanya keeratan dari buday ayang ada dapat membawa nama bangsa indonesia menjadi harum, dalam arti membawa budaya indonesia ke mancanegara atau memperkenalkan budaya yang ada ke negara luar.

      d. Bela Negara

      Pasal 27 ayat 3 UUD 1945 berbunyi : setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Dari bunyi pasal tersebut menunjukkan bahwa bela negara merupakan hak dan sekaligus kewajiban bagi setiap warga negara, ini membuktikan bahwa bela negara juga menjadi suatu aturan agar setiap warga negara harus melakukan tindakan bela negara demi ketahanan dan eksistensi sebuah negara. Pada zaman penjajahan bela negara diartikan dengan cara mengikuti wajib milter agar dapat membertahankan negara indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu ketika bangsa indonesia berhasil mengalahkan para penjajah dan merdeka, konsep bela negara berbuah dalam arti tidak tertapaku lagi harus mengikuti wajib iliter. Zaman sekarang ini, setiap orang dapat melakukan bela negara dengan caranya masing-masing, menurut profesinya atau pekerjaannya. Dalam konsep bela negara diinterpretasikan secara labih luas lagi sehingga meliputi segala bidang dalam kehidupan bernegara. Dalam upaya pembelaan negara ini, dilakukan secara terpadu dan disadasarkan atas kecintaan terhadap tanah air dan bangsa. Misalnya, dalam bidang kesehatan seorang dokter menekuni preofesinya dengan sungguh sehingga dapat membuat ia menjadi dokter yang handal bukkan hanya di Indonesia namun juga di luar negeri. Adapun contoh yang lain dala dunia pendidikan siswa belajar dengan rajin dan kemudian mengikuti lomba di tingkat internasional dan dapat meraih juara. Dari berbagai sikap yang dilakukan oleh warga negara sebagai rasa cinta terhadap negara dan pembelaan negara ini dapat mengharumkan nama bangsa indonesia. Dengan sendirinya juga setiap warga negara sudah memberikan sumbangsi terhadap ketahanan nasional dan eksistensi dari pada identitas nasional.

      2.3. Pentingnya Mempertahankan Identitas Nasional

      Identitas Nasional Indonesia meliputi apa yang dimiliki bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain seperti kondisi geografis, sumber kekayaan alam Indonesia, kependudukan Indonesia, ideologi, agama, politik negara, ekonomi, dan pertahanan keamanan. Menghadapi identitas nasional, bangsa Indonesia sendiri masih kesulitan dalam menghadapi masalah bagaimana untuk menyatukan negara yang mempunyai banyak sekali kelompok etnis, yang memiliki pengalaman yang berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Namun saat ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Karena kebiasaan atau pun budaya masyarakat kita telah bercampur dengan kebiasaan dan kebudayaan negara-negara lain. Indikator identitas nasional itu antara lain pola perilaku yang nampak dalam kegiatan masyarakat seperti adat-istiadat, tata kelakuan, kebiasaan. Lambang-lambang yang menjadi ciri bangsa dan negara seperti bendera, bahasa, dan lagu kebangsaan. .
      Arus globalisasi yang demikian pesatnya, ternyata telah mampu mempengaruhi identitas nasional dan berpotensi merosotnya nilai-nilai budaya bangsa. Masyarakat budaya tidak lagi memperhatikan budayanya sendiri apalagi punya keinginan dan dorongan untuk melestarikan. Mereka cenderung mengadopsi dan menerapkan budaya asing dan mengabaikan budaya sendiri. Budaya yang asli dianggap kuno dibandingkan dengan budaya asing yang dianggap lebih modern.
      Pemikiran dan pemahaman seperti inilah yang membuat menurunnya nilai-nilai kebudayaan asli bangsa dan berpotensi hilangnya identitas bangsa yang sebenarnya. Menyikapi hal ini maka dianggap penting untuk mempertahankan identitas nasional demi eksistensi bangsa. Salah satu alasan pentingnya mepertahankan nilai-nilai budaya sendiri adalah karena nilai-nilai budaya suatu negara adalah identitas negara tersebut didepan dunia internasional . Jika kita sebagai masyarakat Indonesia tidak mengahargai dan mempertahankan budaya kita sendiri, siapa yang akan mempertahankannya? Jika kita tidak mempertahankan budaya kita sendiri sama saja dengan kita membuang identitas negeri kita didepan dunia internasional yang akan membuat negara kita tidak terpandang didepan negara-negara lain. Dengan kita lebih menghargai dan mempertahankan budaya kita, akan lebih banyak lagi negara-negara yang akan tahu tentang bangsa kita dan dapat mendatangkan berbagai keuntungan dalam hal moneter ataupun hal non-moneter seperti nama Indonesia yang terpandang sebagai negara dengan berbagai keunikan dan keindahan alam.

      BAB III
      PENUTUP

      3.1. Kesimpulan

      Dari pembahasan diatas maka kami kelompok 2 menyimpulkan :
      1. Identitas nasional dalam era globalisasi sekarang ini sudah mengalami kemerosotan dari nilai-nilainya yang merupakan akibat dari lajunya arus globalisasi sehingga proses masuknya budaya asing kedalam budaya asli bangsa sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Akibatnya budaya asiang dan buday asli bangsa bercampur baur.
      2. Untuk menyikapi hal diatas perlu adanya strategi untuk mempertahankan identitas nasional. Strategi untuk mempertahankan identitas nasional dapat dilakukan dengan mengembangkan nasionalisme, melestarikan budaya, pendidikan, dan bela negara.
      3. Identitas nasioanal dianggap penting untuk dipertahankan karena alasan berikut:
      a. Identitas nasional merupakan jati diri bangsa.
      b. Identitas nasional menjadi faktor yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain.
      3.2. Saran
      Sebagai warga negara yang baik kita harus mampu mempertahnkan identitas nasional di era globalisasi. Dimana pada saat ini dengan adanya perkembangan di era globalisasi mempengaruhi budaya-budaya yang sudah ada di indonesia. Disinilah kita sebagai warga negara harus mampu mengaembangkan jati diri bangsa, jangan sampai budaya kita diganti dengan budaya asing atau budaya luar. Terlebih kita sebagai mahasiswa harus berpartisipasi dalam mempertahankan identitas nasional. 

      DAFTAR PUSTAKA

      Fahmi Irham, 2011. Manajemen – teori, kasus, dan solusi, Bandung : Alfabeta
      Kaelan dan Zubaidi Achmad, 2010. Pendidikan Kewarganegaraan, Yogyakarta: Paradigma
      Tilaar. H.A.R, 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan, Jakarta : Grasindo
      Tilaar. H.A.R., 2007. Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta
      Tilaar. H.A.R., 1999. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, Bandung: Rosda
      Adriel Kevin download http://kevinadriel.blogspot.com/2010/05/pentingnyamempertahankan-nilai-nilai.html, diposting pada minggu 9 Mei 2010, pukul 07.51, di kutip pada Rabu 14 November 2012, pukul 10.49.
      Heru Tri yuza, download http://kelompokkwntekdus.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html, diposting pada Kamis, 10 November 2011, pukul 06.27, di kutip pada hari rabu, 14 November 2012, Pukul 10.05.
      Syamhalim, http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/17/agenda-memantapkan-identitas-nasional-melalui-pendidikan/, diposting pada 17 August 2012 pukul, 05:52.
      http://fikternora.16mb.com/2012/11/strategi-mempertahankan-identitas-nasional-di-era-globalisasi/

      Kamis, 25 Mei 2017

      Peningkatan Ekonomi Kreatif melalui Potensi wisata kawasan Dieng Wonosobo

      Peningkatan Ekonomi Kreatif melalui Potensi wisata kawasan Dieng Wonosobo




      HALAMAN PENGESAHAN
      Karya Tulis,
      1.  Judul                       Peningkatan Ekonomi Kreatif melalui potnsi wisata kawasan Dieng wonosobo
      2. Penulis                     :
      a.       Nama               :  Ilham Rohbi
      b.      Absen              : 14
      c.       Kelas               : XI IPS 4
      Tujuan              : Disusun untuk menyelesaikan tugas penelitian dari guru
      pembimbing SMA N 1 Blora.

      Karya tulis ini disahkan pada tanggal .......................................................................

      Mengetahui,
      Kepala SMA N 1 BLORA                                         Pembimbing   


      Drs. Slamet Joko Waluyo, M.Pd                             Anik Hanifah, S.Pd              
      NIP. 19670430 199802 1 002                                    NIP. 19841019 200903 2 008













      MOTTO dan Persembahan

      “If you have a dream, just come and get it. Protect Ur dream” (Chirs Gardner, Pursuit of Happyness)

       

      KATA PENGANTAR



      Alhamdulillahi rabbilalamin, penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT.Hanya karena rahmat dan limpahan karuniaNya, akhirnya Karya tulis ilmiah dengan judul “Nilai Historial dan Pariwisata Kawasan Wisata Dieng” dapat terselesaikan.
      Penuyusunan Karya tulis ilmiahini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan, inspirasi serta dorongan dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung membantu penyelesaiannya. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

      1.                 Allah SWT yang akan limpahan rahmatNya memberikan kekuatan serta ketekunan dalamberusaha.
      2.                 Orang Tua Tercinta
      3.                 Guru Pembimbing
      4.                 Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu dalam penyelesaian Tugas ini.

      Namun penulis menyadari bahwa Karya tulis ilmiah ini masih sangat jauh dari sempurna.Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun selalu penulis harapkan dari berbagai pihak.Semoga Karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan. Amin....




      Blora, April 2017


      Penulis



      DAFTAR ISI

      HALAMAN JUDUL ......................................................................................        I
      Lembar Pengesahan .........................................................................................        II
      HALAMAN MOTTO........................................................................................... III
      KATA PENGANTAR.......................................................................................... III
      DAFTAR ISI ....................................................................................................... IV

      BAB I PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang Masalah .......................................................................................... 1
      B.     Rumusan Masalah ................................................................................................... 3
      C.     Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 3
      D.    Metode Pengumpulan Data .................................................................................... 4
      F.      Manfaat Penelitian .................................................................................................. 4

      BAB II KAJIAN PUSTAKA
      A.    Pengertian Pariwisata............................................................................................... 5

      BAB III PEMBAHASAN
      A.    Nilai Histori dan Makna Kata Dieng....................................................................... 6
            2.11.Karakteristik Kawasan Wisata Dieng.............................................................. 7
      B.    Tujuh Unsur Karakteristik Masyarakat Dieng
      ............................................................................................................................... 17
      BAB IV PENUTUP .................................................................................................
      A.    Kesimpulan............................................................................................................ 19
      B.     Saran ................................................................................................................ ..... 19
      C.  Lampiran................................................................................................................ 20
      DAFTAR PUSTAKA .......................................................................                                    21

































      BAB I
      Pendahuluan


      A.                    LatarBelakang
      Perkembangan suatu daerah sangat ditentukan oleh potensi andalan dan unggulan yang dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD).Pengembangan diharapkan memiliki multiplier effect yang besar bagi suatu daerah.
      Pembangunan sebagai usaha untuk meningkatkan mutu dan taraf hidup masyarakat tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi saja tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya kebutuhan akan rekreasi. Salah satu bentuk kebutuhan akan rekreasi adalah dengan berwisata atau melakukan kunjungan ke obyek wisata.
      Pariwisata mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan Indonesia khususnya sebagai penghasil devisa negara disamping sektor migas. Sebagai sumber devisa, pariwisata menyimpan potensi yang sangat besar. Melihat trend pariwisata tahun 2020, perjalanan wisata dunia akan mencapai 1,6 milyar orang. Di beberapa negara, pariwisata khususnya agritourism bertumbuh sangat pesat dan menjadi alternatif terbaik bagi wisatawan.Berdasar fenomena yang ada, untuk kedepan, prospek pengembangan pariwisata diperkirakan sangat cerah.Hal inilah yang mendorong pemerintah untuk menggalakkan pembangunan di sektorpariwisata.
      Adanya Otonomi daerah, secara formal terjadi pelimpahan wewenang kekuasaan dari pemerintah pusat terhadap pemerintah kabupaten/ kotasebagai unit otonomi untuk mengelola daerahnya sendiri termasuk didalamnya sektor pariwisata. Hal ini merupakan stimulus dan kesempatan bagi daerah untuk menggarap pariwisata dengan optimum sebagai sektor yang   berpeluang   menjadi   sektor   unggulan   sehingga   dapat  tercipta
      kemandiriandaerah.

      Pengembangan pariwisata tentu saja akan memberikan dampak baik  itu dampak positif maupun dampak negatif. Suatu tempat wisata tentu memiliki dampak-dampak terhadap lingkungan sekitarnya.Pengembangan pariwisata dan kunjungan wisatawan yang meningkat dapat menimbulkan dampak atau pengaruh yang positif maupun negatif dan yang terkena dampak tersebut adalah masyarakat, lingkungan, ekonomi, serta sosial.
      Pengembangan pariwisata ini akan berdampak sangat luas dan signifikan dalam pengembangan ekonomi, upaya-upaya pelestarian  sumber daya alam dan lingkungan serta akan berdampak terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat terutama masyarakat lokal. Pengembangan kawasan wisata mampu memberikan kontribusi pada pendapatan asli daerah, membuka peluang usaha dan kesempatan kerja serta sekaligus berfungsi menjaga dan melestarikan kekayaaan alam dan hayati.Pengembangan pariwista sebagai salah satu sektor pembangunan secara umum menjadi sangat relevan jika pengembangan pariwisata itu sesuai dengan potensi daerahnya. Diharapkan pengembangan pariwisata dapat berpengaruh baik bagi kehidupan masyarakat terutama masyarakat lokal dan mampu mendorong pengembangan berbagai sektor lainbaik ekonomi, sosial maupun budaya. Dengan demikian maka, pembangunan pariwisata harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang artinya  bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat (Piagam Pariwisata Berkelanjutan,1995)
      Kawasan Dataran Tinggi Dieng Di Kabupaten Wonosobo memiliki potensi pariwisata yang sangat menonjol.Karena potensinya tersebut  maka pada tahun 1970 Dieng mulai dikembangkan dan diresmikan sebagai obyek wisata oleh Gubernur JawaTengah.
      Kawasan Wisata Dieng merupakan salah satu kawasan pariwisata andalan Kabupaten Wonosobo dan menjadi salah satu daerah tujuan  wisata (DTW) di Jawa Tengah yang berpotensi memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Obyek wisatanya bukan semata dataran tinggi itu sendiri, namun di area itu terdapat berbagai obyek wisata berupa obyek wisata alam dan budaya berupa peninggalan masa lampau.
      Dengan adanya potensi wisata tersebut maka pemerintah Kabupaten Wonosobo menunjukkan bukti nyata dengan diwujudkannya program- program/ upaya pembangunan obyek dan daya tarik wisata serta merangsang    masyarakat    untuk    membuka    usaha    yang mendukung
      pariwisata,   guna   memenuhi   kebutuhan   perjalanan   dan  persinggahan
      wisatawan diDieng.
                         

      A.     RumusanMasalah

      1.Dari uraian latar belakang di atas, pokok permasalahan  daripenelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
      Bagaimana dampak pengembangan pariwisata di Kawasan Wisata Dieng terhadap kehidupan masyarakat lokal ditinjau dari aspek fisik, sosial budaya, dan ekonomi?
      2. Upaya apa yang harus dilakukan untuk memajukan pariwisata tersebut sehingga menjadi pariwisata yang lebih baik?.
      B. Tujuan Penelitian
                     Berdasarkan rumusan masalah yang penulis buat diatas, tujuan dari penelitian ini antara lain:
                       1. Mengetahui apa yang menjadi faktor pendukung daerah dataran tinggi Dieng yang dijadikan tempat observasi atau pariwisata?.
                       2. Menjelaskan dan menganalisis faktor penghambat dan perkembangan kemajuan pariwisata di dataran tinggi Dieng.
      2.                 Mengetahui upaya apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan potensi pariwisata maupun kearifan lokal marga di dataran tinggi Dieng?.
      C.     Manfaat Penelitian
      1.      Bagi Penulis
      Karya Tulis ini dibuat supaya penulis dapat menyelesaikan tugas penelitian yang diberikan oleh guru pembimbing.
      2.      Bagi Pembaca
      Karya tulis ini dibuat supaya pembaca karya tulis ini dapat mengetahui Kawasan Wisata Dieng
      3.      Bagi Sekolah
      Karya tulis ini dibuat agar sekolah dapat melatih siswa supaya dapat membuat karya tulis.
      4.      Bagi Masyarakat
      Karya tulis ini dibuat dengan tujuan supaya masyarakat awam dapat lebih paham mengenai akan potensi pariwisata di Indonesia khususnya  pada Kawasan Wisata Dieng

      D.    Metode Pengumpulan Data
      Pada penulisan karya tulis ini dilakukan dengan mengumpulkan buku-uku yang berisi tentang informasi Pemberdayaan masyarakat dalam Kawasan Wisata Dieng. Mencari artikel yang berhubungan dengan Pariwisata di internet. Metode observasi yaitu metode tentang pengamatan, cara mengamati langsung terhadap obyek yang akan diteliti. Metode interview atau wawancara adalah cara memperoleh data dengan mengadakan tanya jawab antara yang melakukan penelitian dengan pihak yang meneliti atau petugas yang mebidangi.

        



      BAB II
      Kajian Pustaka

      1.       Pengertian Pariwisata

      Pariwisata merupakan konsep yang sangat multidimensional. Tak bias dihindari bahwa beberapa pengertian pariwisata dipakai oleh para praktisi dengan tujuan dan perspektif yang berbeda sesuai tujuan yang ingin dicapai. Definisi pariwisata memang tidak dapat sama persis diantara para ahli. Berikut adalah beberapa pengertian pariwisata :
      a.                  Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah (UU No.10 Tahun Tahun 2009 TentangKepariwisataan).
      b.                 Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari satu tempat ketempat lain , dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah ditempat yang dikunjungi tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan hidup guna bertamasya dan rekreasi atau memenuhi keinginan yang beraneka ragam (Oka Yoeti,1997).
      Kawasan Dataran Tinggi Dieng merupakan kawasan wisata yamg menyajikan perpaduan sumberdaya alam berupa iklim yang sejuk, pemandangan yang indah, fenomena alam yang menakjubkan,  dan  ketenangan, serta sumberdaya budaya seperti peninggalan sejarah dan kehidupan masyarakat yang memberi banyak peluang bagi wisatawan untuk melakukan berbagai kegiatan wisata maupun rekreasi. Selain untuk kegiatan kepariwisataan kawasan ini juga menawarkan banyak peluang untuk  penelitian dan industri dengan banyak potensi sumberdaya alam yang melimpah seperti geologi, vulkanologi, pertanian, dan pertambangan. Berdasarkan arahan pengembangan kawasan wisata di Kabupaten Wonosobo, Kawasan Wisata Dieng diarahkan sebagai kawasanunggulan.

      BAB III
      Pembahasan

      1.       Nilai Historikal dan Makna Kata Dieng

      Sejarah Kawasan Dataran Tinggi Dieng tidak terlepas dari kisah berdirinya Wonosobo. Ini diperkirakan sekitar abad ke-17 atau tahun 1600 Masehi, yaitu dengan datangnya 3 orang yang bernama Kyai Kolodete, Kyai Walik dan Kyai Karim. Mereka datang dengan sanak keluarganya. Saat itu Wonosobo masih merupakan hamparan kawasan hutan belantara.
      Mereka diyakinisebagai bapak pendiri dariKota Wonosobo. Kyai Walik
      sebagai tokoh perancang tata kota, Kyai Karim sebagai tokoh petak sendi- sendi dasar pemerintahan. Tetapi Kyai Kolodete dan keluarganya memisahkan diri dan membuka Dataran Tinggi Deng.
      Setelah Kawasan Dataran Tinggi Dieng dibuka oleh Kyai Kolodete, ternyata Kawasan Dataran Tinggi Dieng sudah terlebih dahulu dihuni oleh manusia. Hal tersebut berdasarkan data dan fakta historis mengenai keberadaan candi-candi Dieng,  tentu  daerah  ini  jauh-jauh  hari (abad 5-7
      M) telah dihuni oleh manusia. Bahkan para ahli sejarah di daerah ini telah berdiri kerajaan Mataram Hindu.Maharaja Sanjaya membangun keraton (kerajaannya) tepat di tengah Kota Wonosobo yang kini menjadi Pasar Wonosobo dan menjadikan Dataran Tinggi Dieng sebagai pusat spiritualnya.
      Dikisahkan di dalam pewayangan bahwa ada suatu masa dimana  Pulau Jawa belum berpenghuni dan dalam keadaan yang berantakan. Pulau Jawa ini terus menerus bergejolak. Batara Guru, sebagai dewa tertinggi kemudian mengambil bagian puncak dari Gunung Himalaya dan ditancapkan di tengah-tengah Pulau Jawa sebagai pasak Pulau Jawa. Pasak tersebut kemudian di sebut sebagai Dieng. Dengan ditempatkanya Dieng  di tengah-tengah Pulau Jawa, maka Pulau Jawa tidak lagi bergejolak, tenang dan dapat ditempati olehmanusia.
      Berdasarkan penelitian dan pengamatan ahli geologi dan vulkanologi, yang tentu saja bersifat esoteric. Dataran Tinggi Dieng, pada masa archaic (purba) diyakini sebagai tempat berdirinya “gunung primordial” atau “gunung kosmik” yang tak terkira tinggi dan besarnya. Akibat proses geologis dan vulkanologis, gunung itu akhirnya terpenggal dan sisa-sisa penggalan itu membentuk Dataran Tinggi Dieng. Sementara bagian atas tercerai barai membentuk gunung dan bukit-bukit yang berserak disana- sini yang saat ini terdapat di Dataran Tinggi Dieng. Dataran tinggi sisa peristiwa purba  inilah  yang  kemudian diidentifikasikan sebagai  Dataran
      Tinggi Dieng
      Kata Dieng berasal dari bahasa Sansekerta Di yang artinya adalah tempat yang tinggi atau gunung dan Hyang yang artinya ruh leluhur atau dewa-dewa atau suatu yang diyakini sebagai dewa atau ruh leluhur atau bahkan Tuhan atau makhluk-makhluk ilahiyah pada umumnya.Selain itu, Hyang juga sering dimaknai sebagai kahyangan, nirwana atau surga, yakni tempat bersemayamnya ruh leluhur atau dewa-dewa, Tuhan, atau makhluk-makhluk ilahiyah tersebut.
      Sebagian lagi percaya bahwa kata Dieng berasal dari  bahasa Indonesia kuno yaitu Di dan Hyang yang artinya kediaman para dewa.
      Selain itu, Dieng juga dapat dirunut makna katanya dari bahasa Kawi, yakni Di yang bersal dari kata Hadi atau adi yang artinya cantik, indah, molek dan sebagainya yang mengandung pemaknaan serba, paling, dan sifat-sifat superelatif lainnya seperti tinggi atau puncak  tertinggi, misterius, transenden, atau segala yang bermakna serba sempurna atau ultimate, dari kesadaran akan makna dari misteri kesempurnaan sebuah tatanan dan iman, juga kemakmuran danketuhanan.

      2.       Karakteristik Kawasan Wisata Dieng KabupatenWonosobo

      a.       Kondisi Fisik danWilayah
      1)   KondisiGeografis
      Dieng merupakan dataran tinggi tertinggi kedua di dunia setelah Nepal, dan yang terluas di Pulau Jawa.Dataran pada posisi geografis 7˚12̍ Lintang Selatan dan 109˚54̍ Bujur Timur, berada pada ketinggian 6.802 kaki atau 2093 m dpl.
      2)   AdministrasiWilayah
      Secara administratif Kawasan Dieng terbagi menjadi dua wilayah yaitu wilayah Kabupaten

      Banjarnegara dan wilayah Kabupaten Wonosobo.
      Pada penelitian  ini  yang dijadikan sebagai lokasi    penelitian
      adalah  Dieng  Wetan  (Dieng  Timur)  yang  terletak  di   Wilayah

      Kabupaten Wonosobo. Adapun batas administrasinya sebagai berikut :
      SebelahBarat                                                      : KabupatenBanjarnegara
      SebelahTimur                                                      : Desa Jojogan danDesaPatakbanteng SebelahUtara          : Kabupaten Batang danKabupatenKendal SebelahSelatan     : DesaSikunang
       

      1)   Sarana Prasarana Pariwisata Obyek WisataDieng
      Sarana prasarana penunjang obyek wisata merupakan pendukung kelancaran kegiatan pariwisata yang ditujukan untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan.
      a)                 Sarana Pariwisata di Obyek WisataDieng
      Sarana pariwisata yang ada di Obyek Wisata Dieng Kabupaten Wonosobo antara lain adalah
      ·         Home Stay
      Home Stay merupakan rumah-rumah penduduk yang
      Disewakan untuk  para wisatawan. Saat ini, di Desa Dieng terdapat 15 home stay yang dikelola sendiri oleh masyarakat. Rata-rata home stay menyewakan 3-4 kamar yang terdiri dari satu atau dua tempat tidur. Harga setiap kamarnya sudah ditentukan untuk semua home stay yaitu Rp. 150.000,00 tiap kamar.

      ·         Restoran/ RumahMakan
      Di Desa Dieng terdapat 13 rumah makan dengan kondisi baik.Rumah makan mayoritas dikelola oleh masyarakat Dieng sendiri.Rumah makan-rumah makan ini sangat mendukung kegiatan pariwisata yang ada di Dieng.
       
      ·         Toko/Kios
      Di Desa  Dieng,  saat  ini  terdapat  81  buah toko
      yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Mayoritas kios yang ada di Desa Dieng kondisinya baik.
       
      ·         Toko/Kios
      Di Desa  Dieng,  saat  ini  terdapat  81  buah toko
      yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Mayoritas kios yang ada di Desa Dieng kondisinya baik.
       
      ·         Mushola
      Di dalam Kawasan Obyek Wisata Dieng juga disediakan fasilitas peribadatan khususnya untuk umat muslim yaitu mushola. Terdapat 1 Mushola di Komplek Telaga Warna dan 1 mushola di Dieng Plateau Theater (DPT).Kondisi mushola yang disediakan baik.


      a

      1.       Potensi Obyek Wisata Dieng KabupatenWonosobo

      Potensi pariwisata yang ada di wilayah penelitian yaitu Desa Dieng, Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo meliputi keindahan fisik alam, kesenian dan kebudayaan masyarakat, maupun beberapa obyek wisata buatan.Disamping mempunyai alam yang indah, Dieng terkenal juga dengan peninggalan-peninggalan kunonya.Potensi alam yang ada meliputi panorama alam. Ditunjang dengan hawa yang sejuk, topografi yang berbukit menjadikan suatu potensi dengan suasana yang  bervariasi. Potensi budaya yang ada dan menunjang adalah pola kehidupan masyarakat desa, tradisi dan adat istiadat yang tetapdipertahankan.
      Potensi pariwisata yang ada di wilayah penelitian adalah sebagai berikut :
      a.       Obyek WisataAlam
      Merupakan perpaduan antara kehidupan alam pegunungan dan kejadian alam yang mengagumkan.Obyek wisata alam ini ada secara alami dan bukan merupakan ciptaan/ buatan manusia. Adapun obyek wisata alam yang ada di Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut :


      No
      Obyek Wisata
      Gambaran Umum
      1.
      Telaga Warna
      Telaga warna merupakan salah satu telaga yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Telaga ini memiliki pesona tersendiri karena tidak henti-hentinya membiaskan aneka warna yang cemerlang dari dasar telaga. Warna yang ada di Telaga Warna  diakibatkan adanya air belerang yang muncul di permukaanair.
      2.
      Telaga Pengilon
      Telaga ini berada di sebelah Telaga Warna. Telaga Pengilon tersebut berkilau seperti kaca cermin. Konon telaga ini airnya sangat jernih, hingga bisa digunakan untuk bercermin
      3.
      Gua Semar
      Goa ini berupa lubang batu dengan pintu kecil dan sempit. Orang yang masuk kedalamnya harus dengan merangkak. Goa ini sering digunakan oleh orang-orang yang mempunyai keyakinan kejawen/ kebatinan untuk bersemedi agar mendapatkan kekuatan/ wibawa dan kekayaan. Gua ini memilki kedalaman kira-kira 4 meter.




























      5.
      Goa Jaran (Kuda)











      Letak Goa Jaran tidak jauh dari Goa Semar dan Goa Sumur. Goa ini tidak digunakan untuk semedi. Goa ini dikenal dengan Goa Jaran menurut cerita dahulu kala ada seekor kuda betina kelelahan dan berhenti di  depan goa itu. Oleh karena kedinginan, kuda itu masuk ke dalam. Begitu keesokan harinya kuda itu keluar dari goa, kuda ituhamil.
      6.
      Batu Tulis/ Semar







                                         
      Terletak di komplek Hutan Wisata Dieng. Merupakan sebuah batu besar dengan ukuran 36 m3 dan pada Batu Tulis/ Semar secara alamiah terukir sebuah profil yakni profil manusia, sehingga batu tersebut ada yang memberi nama Batu Semar. Disamping itu, konon pernah ditemukan sebuah prasasti yang bertuliskan huruf sansekerta dengan demikian ada pula nama lain  dari Batu Semar ini yaitu BatuTulis.




















      Sumber : RTBL Kawasan Dieng, 2017 dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo


      B. Obyek WisataBudaya
      Obyek wisata budaya merupakan obyek wisata fisik dan kebudayaan seperti kesenian, peninggalan bersejarah, adat istiadat masyarakat (upacara tradisional, tata kehidupan sehari-hari), cultural events, special event dan lain sebagainya. Adapun obyek wisata  budaya yang ada di Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut:
      No
      Obyek Wisata
      Gambaran Umum
      1.
      Tuk Bimo Lukar
      SDC10783.JPG






      Obyek wisata ini berupa sumber mata air yang dipercaya dapat membuat orang awet muda. Tuk  Bimo  Lukar ini merupakan sumber mata  air Sungai Serayu yang terletak di pintu Dataran Tinggi Dieng. Tuk Bimo Lukar adalah sebuah mata air dengan pancuran yang terbuat dari batu  purba. Menurut cerita Bimo Lukar dimaksudkan sebagai tempat dimana Sang Bimo melukar (melepas) pakaiannya untukdisucikan.



      /


      2.
      Tarian Tradisional
      a.   Kesenian Lengger
      IMG.jpg










      Tarian tradisional yang ada di Dieng yaitu berupa kesenian  Lengger. Tarian yang dibawakan oleh seorang anak laki-laki yang dirias seperti wanita. Tarian Lengger mengisahkan sayembara yang dibuat oleh Raja Brawijaya yang telah kehilangan putri kesayanganya yaitu Dewi Sekartaji.

      b.   Kesenian Kuda Kepang

      seni9

      Kesenian Kuda Kepang  ini dibawakan oleh tujuh penari sebagai pemimpin dan enam penari sebagai prajurit. Tarian ini didasarkan pada cerita Raden Panji Asmoro Bangun yang sedang mencari kekasihnya bernama Dewi Sekartaji.
      3.
      IMG_0003.jpgRuwat Rambut Gimbal
      Ruwat rambut gimbal merupakan upacara tradisi yang berlangsung secara turun menurun. Di Dieng banyak anak yang berambut gembel/ gimbal adalah bawaan sejak  lahir yang dianggap balak. Untuk melepas balak harus diruwat melalui Upacara Tradisi Ruwatan Rambut Gembel. Permintaan anak yang diruwat akan dipenuhi sesuai permintaannya, apabila tidak terpenuhi maka rambut gembel/ gimbal tersebut akan tumbuh kembali.































      Sumber : RTBL Kawasan Dieng, 2017 dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo


      C. Obyek WisataBuatan
      Obyek wisata buatan merupakan salah satu daya tarik wisata yang diciptakan oleh manusia. Adapun obyek wisata buatan yang merupakan daya tarik wisata di Dieng, Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut:

      Tabel 4.11 Obyek Wisata Buatan


      No
      Obyek Wisata
      Gambaran Umum
      1
      Dieng Plateau Theater

      SDC10688.jpg



      Pusat interpretasi alam dan budaya Kawasan Dataran Tingi Dieng yang diberi nama Dieng Plateau Theater (DPT) dibangun pada pertengahan tahun 2017 atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah. DPT merupakan obyek wisata buatan yang berupa bangunan theater yang memutar film tentang potensi wisata dan sumber daya alam Dataran Tinggi Dieng serta aktifitas vulkanik Gunung Dieng. Bangunan ini terhubung dengan obyek Telaga Warna. DPT berada di lereng bukit Sikendil Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, KabupatenWonosobo.
      Sumber : RTBL Kawasan Dieng, 2017 dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo


      Tujuh Unsur Kebudayaan Masyarakat Dieng
      ü  Bahasa
      Bahasa yang sering digunakan sehari-hari oleh masyarakat dieng adalah bahasa jawa dan bahasa indonesia
      ü  Agama
      Agama yang dianut oleh masyarakat Dieng Kabupaten Wonosobo adalah mayoritas Islam. sekalipun di daerah tersebut terdapat candi, itu hanyalah simbol atau peninggalah zaman dahulu para penganut agama hindu yang mengagung-agungkan Tuhannya dengan membuat candi-candi. Seperti didalam Agama Islam tempat beribadahnya adalah Mesjid. Mungkin seperti itu yang dilukiskan pada zaman dahulu untuk memulyakan tuhannya.
      ü  MATA PENCAHARIAN
      Mata pencaharian masyarakat dieng umumnya pada sektor pertanian, antara lain:
      -          Kentang (Komoditas Utama)
      -          Carica
      -          Kubis
      -          Cabe Besar / Cabe Bandung
      -          Gogo (Padi Dunung)
      Adapun kelebihan dan kerugian dalam masa tanam pertanian di daerah dieng.
      a.       Kentang
            Menanam kentang dipilih bibit yang sudah tua, untuk membedakan bibit yang sudah tua cukup dilakukan goresan kecil pada permukaan kentang, jikalau permukaan kentang tersebut tergores sampai kedalah kentang. Itu berarti kentang masih muda dan belum cocok untuk dijadikan bibit indukan kentang, tapi apabila kentang tersebut tergoresnya tidak berbekas itu menunjukan bahwa kentang tersebut sudah bisa dijadikan bibit indukan kentang.
            Pebedaan kentang merah dengan kentang biasa, bisa dilihat dari segi fisiknya, kentang yang luarna berwarna agak kehitam-hitaman kentang tersebut dalamnya warna merag, ungu atau hijau. Sedangkan kentang bisa luarnya lebih jernih dan jenis fisik kentangnya imut-imut.
            Adapun pupuk yang digunakan masayarakat dieng untuk tanaman kentang adalah berupa pupuk pabrik dan pupuk organik atau yang sering disebut oleh masyarakat dieng adalah “CM” (Chiken Muller/ Kotoran Ayam), yang nantinya disatukan kedalam tanah sebelum bibit kentang ditanam.
            Untuk penggunaan MULSA atau penutup permukaan tanah yang terbuat dari pelastik, mulsa tersebut tidak hanya dipakai sekali saja. Melainkan mulsa tersebut jika fisiknya masih bagus, tidak robek, dan layak pakai mulsa tersebut akan digunakan lagi oleh para petani. Sedangkan untuk penggunaan lahan para warga atau masyarakat dieng biasa mendiamkan tanahnya dulu setelah masa panen, yang bertujuan untuk menjaga kualitas dan kesuburan tanah, masyarakat disini umumnya mendiamkan tanahnya antara 1/bulan sampai 1 bulan. Dalam jangka pendiaman tersebut tanahnya diberi pupuk “CM” dengan tujuan disaat penanaman bibit kentang tersebut kentang akan lebih baik hasilnya.
            Warga atau masyarakat dieng tidak semuanya memiliki lahan pertanian kentang sendiri, ada yang menyewa dari orang lain. Di daerah dieng terkenal dengan juragan tanah yang suka menyewa-nyewakan tanahnya kepada para petani. Merka mengukur tingkat kesuburannya hanya berdasarkan pengalaman dan hasil yang di dapat saat masa panan, kalau masa panennya bagus meraka anggap tanah itu baik dan memiliki harga sewa tinggi sebaliknya jika hasil panen kurang bagus mereka anggap tanah kurang baik. Harga sewa tanah dari juragan tanah tersebut dilihat dari itu, mulai dari 1.600.000 yang pali tinggi dan 900.000 yang paling murah pertahunnya.
            Harga kentang dieng lebih mahal karena kentang dieng memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan kentang yang dihasilkan oleh daerah lainnya, kentang sayur untuk di daerah dieng sendiri berkisar antara 3500 S/5000 perkilogram dan untuk kentang yang biasa dijadikan keripik potatos beda lagi hargana, karena kualitas kentang potatos lebih bagus daripada kentang yang suka dijadikna sayur.
      b.      Carica
             Carica adalah sebuah pohon sejenis pepaya, tapi jenis carica kebih kecil dibandingkan dengan pepaya. Carica oleh masyarakat dieng dijadikan penganan atau manisan sebagai oleh-oleh khas dari dieng. Rasa-rasanya carica serupa dengan pepaya yang dicampur salak.
             Carica hanya dapat dijumpai di daerah dieng, karena keadaan cuaca serta iklimnya yang berbeda di daerah lain, pernah ada studi kasus bibit carica di tanam di tempat lain di luar daerah dieng, hasilnya serupa menjadi pepaya.
      c.       Cabe Besar / cabe Bandung
             Jenis cabe yang dibudidayakan oleh warga dieng adalah cabe besar atau warga dieng menyebutnya cabe bandung, berbentuk bulat besar seperti biji pala, pohonnya pendek dan berdaun lebat
      d.     Padi Gogo
             Padi gogo adalah sejenis tanaman padi biasa, padi gogo biasa di tanam di daerah yang kondisinya relif atau dataran tinggi. Padi gogo terbiasa dengan kekuarangan air, oleh sebab itu padi gogo bisa hidup di daerah yang tinggi. Padi gogo umumnya berusia lebih panjang, yang biasanya padi yang di tanam oleh para petani di persawahan memerlukan waktu  tiga sampai empat bulan baru bisa di panen, berbeda dengan padi gogo yang baru bisa di panen sekitar tujuh sampai delapan bulan. Itu yang mengakibatkan masyarakat di daerah dieng memilih untuk menanam kentang sebagai sektor pertanian mereka, karena masa panen kentang lebih cepat.
      Adapun mata pencaharian masyarakat dieng juga ada yang menjadi Pegawai Negeri sipil (PNS)
      ©  ILMU PENGETAHUAN
      ©  PERALATAN
      ©  KELEMBAGAAN
      Kecamatan Dieng Terbagi ke dalam 16 desa:
      b.        Pari Kesit
      c.         Tieng
      d.        Sweran Gede
      e.         Girim Rana
      f.         Buntu
      g.        Sigedang
      h.        Tambi
      i.          Kejajar
      j.          Serang
      k.        Kreo
      l.          Pata Bandeng
      m.      Jojogan
      n.        Sikunang
      o.        Sembungan
      p.        Campur Sari
      ©  KESENIAN
      Salah satu kesenian tradisional yang mewarnai kehidupan masyarakat dieng adalah “Topeng Lengger”,  Topeng Lengger adalah sebuat tarian yang diangkat dari cerita rakyat tentang kisah percintaan “Panji Asmaubau dan Garut Candrakirana”. Keunikan lain dari dataran tinggi dieng adalah adanya anak-anak berrambut gembel, rambut yang melekat satu sama lain ini sulit dipisahkan. Tidak ada yang tau penyebabnya tetepi awalnya adalah panas tinggi yang tidak sembuh-sembuh, ada yang percaya bahwa anak yang berambut gembel ini membawa berkah atau sial. Untuk memotong rambut gembel anak-anak itu harus diadakan acara ruatan, yaitu upacara untuk membebasan si anak dari pengaruh buruk. Pada kesempatan ini orang tua harus memberikan apa saja yang menjadi permintaannya. Setelah dipotong nantinya rambut akan tumbuh normal kembali, selanjutnya potongan rambut gimbal di hanyutkan ke sungai serayu, sebagai lambang hanyutnya kesialan yang ada pada anak tersebut. Sungai serayu yang menjadi salah satu nadi kehidupan di daerah dieng bagian selatan ini berawal dari sebuah pancuran yang ada di dataran tinggi dieng kabupaten wonosobo (Teluk Bimolukar).











      BAB IV
      PENUTUP

      A.    Simpulan
      Keadaan geografis di dataran tinggi dieng yang berbukit-bukit memiliki karakteristik tersendiri diantaranya dari segi agraris memiliki hasil pertanian yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat di daerah tersebut, selain dari pertanian itu dieng memilki buah berbentuk makanan ringan dan oleh-oleh khas daerah tersebut yaitu carica, keripik kentang, purwaceng, dll. Daerah dataran dieng masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan sehingga kebudayaan dari zaman nenek moyang sampai sekarang ini masih dipertahankan, yaitu budaya rambut gembel.
      B. Saran
                 
                  Pemerintahan Banjarnegara dan Bondowoso dapat melakukan pengembangan lebih lanjut lagi tentang pariwisata serta pertanian yang berada di daerah Dieng. Dengan kerja sama yang lebih optimal maka pariwisata dan pertanian di daerah dieng dapat berjalan lebih optimal lagi kedepannya.

      Daftar Pustaka
      Hidayati, Putri (2012) STRATEGI PEMASARAN DESA WISATA SEMBUNGAN DENGAN ANALISIS SWOT (Studi pada Desa Sembungan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo).

      Raharja, DT (2012) Membangun Pariwisata Bersama Rakyat: Kajian Partisipasi Lokal Dalam Membangun Desa Wisatadi Dieng Plateau.

      Parmita, ID (2010) DAMPAK PENGEMBANGAN PARIWISATA TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT LOKAL Studi Kasus: Kawasan Wisata Dieng Kabupaten Wonosobo.

      Nugroho, GP (2004) STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA KAWASAN DIENG.

      Oktayuanto, PD (2011)  STRATEGI PEMASARAN POTENSI WISATA KOMPLEK CANDI DIENG DI KABUPATEN WONOSOBO DENGAN METODE ANALISIS SWOT DAN BENCHMARKING.

      Agustiana (2013) Analisis Efisiensi Obyek Wisata Di Kabupaten Wonosobo.

      Hendriani, Septi (2013) Penataan Desa Wisata Sembungan Dieng Wonosobo.

      Hermawati (2011) KERJASAMA KABUPATEN BANJARNEGARA DAN KABUPATEN WONOSOBO DALAM PENGELOLAAN PARIWISATA DIENG.